They Said…..

Hubungi Kami    Tentang SatuDunia

Sisa Hidup yang Berarti

21 February 2007

Rohili, 33 tahun, tampak terlihat sehat-sehat saja sore itu. Raut muka dan kondisi tubuhnya, serta deretan giginya seperti tidak menampakkan bahwa dia seorang yang pernah merasakan bagaimana mengerikannya narkoba. Tambahan lagi pun telah diklaim tenaga medis, terjangkit virus HIV/AIDS.

Dunia gelap narkoba memang bukan hal yang baru bagi Rohili. Ia bukan hanya seorang pecandu narkoba kelas berat, pertama kali bergelut di dunia narkoba langsung mengkonsumsi jenis putauw. Bahkan, pada awalnya ia seorang bandar dan kaki tangan bandar besar putauw. Berbagai jenis narkoba pernah ia rasakan, namun putauw, menurutnya, sangat memiliki daya adiksi yang besar sehingga membuat orang akan terus-menerus ketergantungan kepadanya. “Jika jenis narkoba lain mungkin bisa berhenti, namun, jika sekali make putauw, anda akan sangat-sangat sulit berhenti untuk tidak mengkonsumsinya,” ujar Rohili. Ia juga pernah jadi sasaran target operasi nomor satu Polres Jakarta Selatan. Namun, setelah berhenti mengkonsumsi putauw dan jenis narkoba lainnya, garis tangannya menuntun ia menjadi seorang penyuluh Harm Reduction di Puskesmas Cilandak. Bagaimana secarik kisah yang masih diingatnya, berikut ini penuturannya:

Awal gue make tahun 1995, pada waktu usia gue sekitar 22 tahun, dan gue memakai itu karena teman gue itu bandar. Ceritanya nawarin gue supaya gue jadi bandar. Kata temen gue, “ coba lu coba ini barang, enak nggak, ntar lu jual barang ini. Makenya langsung putauw.(bandar putauw). Waktu itu jenisnya kayak brown sugar, agak cokelat. Karena disuruh nyobain barang, disuruh jadi bandar. Gue kuliah tahun 1994, di Unas-Universitas Nasional), temen gue di lingkungan kampus gue ada juga yang pemakai, tapi gue jualnya nggak di kampus. Waktu jadi bandar itu, gue nggak tahu PT itu ternyata buruk banget dampaknya.

Awal gue make PT, sehari nggak satu ji. Make asal iseng doang, karena kalo gue make tiap hari dengan barang gue yang buat dijual, gue bisa bangkrut. Baru setelah gue kecanduan, gue sehari bisa abis setengah ji sampe satu ji, gue mulai mengalami kebangkrutan, karena gue mulai nggak bisa nyetor.

Gue jadi bandar langsung, karena temen gue dulu bandar gede. Gue masih kakinya. Gue ngambil barang, nyetornya setelah barang habis. Waktu itu, gue make kalau ada stok barang, baru make. Jadi nggak selalu tiap hari. Kecanduan gue justru tahun 1996. Jadi tahun 1996 itu, gue mulai kecanduan barang yang gue jual. Jadi waktu itu gue baru ngerasain sakauw itu kayak gimana.

Tahun 2000 gue nikah, sama isteri gue yang sekarang, dia baru lulus sekolah, bukan pecandu, karena keluarga gue melihat kelakuan gue masih seperti itu, keluarga (orang tua) gue yang nyuruh gue nikah. nyokap aja yang mengatakan, ‘udah lu kawin aja, daripada lu terus begitu’. Mungkin tujuannya baik, supaya gue berhenti Kalo gue nikah pikirannya laen kan. Ternyata kelakuan gue nggak berubah. Pernah suatu ketika gue make PT, gue giting banget, gue pulang ke rumah, bini gue ngomel-ngomel, gue cuma ngebales,’ngapain sih lu marah-marah, sante aja sih napa’.

Masalah free sex, gue cuek-cuek bebek sih. Waktu belum nikah, gue akuin gue free sex. Waktu gue jadi bandar, gue nagih ‘pasien’ cewek, ‘dan dia lagi sakaw, gue bilang,’mana duitnya’, dia malah jawab,’udahlah lu tidur ama gue aja’. Ya, jadi akhirnya gitu deh. Narkoba itu (PT) emang ada pengaruhnya ke seks bebas. Dulu kalau bandar yang kayak gitu. Tapi kalau pecandu, ya jual diri, kebanyakan cewek.

Orang tua gue tahu gue make tahun 1998. Reaksinya keras, gue sempet diusir, gue sempet tinggal di tempat temen gue yang jadi bandar, makanya gue sempet jadi kaki tangannya juga. Karena kelakuan itulah gue pernah ngerasain diusir orang tua, dimusuhin ama keluarga, dimusuhin sama temen, karena gue dulu aktif di pengajian di lingkungan rumah dan lingkungan mesjid. Karena gue, badungnya gue juga campur aduk juga. Jadi, latar belakang keluarga gue itu religius. Keluarga gue bukan broken home. Karena gue salah pergaulan aja. Gue tekankan bahwa gue kecanduan narkoba dan jadi bandar karena salah pergaulan, bukan orang tua. Orang tua mah baek.

Tahun 2001 gue punya anak. Sewaktu gue punya anak itu, gue punya cerita khusus. Ketika anak gue mau lahir, gue lagi sakauw berat. Dan itu kejadian, waktu malam Jum’at pas malam 17-an (17 Agustus).

Tahun 2002, ada kejadian khusus banget buat gue, dan ini membuat gue menjadi trauma dan akhirnya berhenti make (putauw). Temen deket gue meninggal, akhirnya gue mencoba untuk berhenti. Selama tiga bulan gue menahan sakit sakauw. Seperti sakit lumpuh. Selain kejadian temen gue itu, gue juga niat berhenti karena faktor anak gue.

Tahun 2000 itu, tahun di mana gue pertama make jarum suntik, sebelumnya gue nge-drex. Karena dapet barang susah. Barang gue juga abis. Nggak punya apa-apa, tabungan gue dari hasil jualan barang, sekian puluh juta abis, abisnya di putauw juga. Ibaratnya gue cuma punya baju satu, celana satu. Udah miskin abis.

Tahun 2002 gue udah berusaha berhenti. Selama tiga bulan gue mengurung diri di rumah. Sebulan gue merasakan sakit yang amat sangat. Untungnya isteri gue mendukung gue untuk berhenti. Tahun 2004 gue sempet relapse, tapi cuma sebentar.

Tahun 2004 itu juga temen-temen gue mulai banyak yang dipanggil Yang Maha Kuasa. Waktu itu gue curiga, beberapa temen yang udah nggak make kok bisa mati. Gue waktu itu sakit diare selama tiga bulan. Akhirnya gue dibawa ke RSKO Cibubur untuk diperiksa, dan gue positif HIV.

Saat itu, gue mulai ada kesadaran, gue seperti ini, dan temen-temen gue juga banyak yang mati duluan, gue mulai membangun diri sendiri untuk kawan-kawan gue supaya berhenti. Tapi gue nggak bilang kalau gue kena HIV, karena masih ada diskriminasi dan stigma yang jelek. Bahwa di kalangan pecandu aja ada diskriminasi apalagi di masyarakat.

Isteri gue sampe nggak tahu sama sekali. Sampai sekarang pun dia belum tahu. Gue hanya ngasih buku-buku tentang HIV/AIDS. Isteri sempet tanya, gue hanya bilang,’kalau udah tahu mau apa, mau terima?’. Jawab isteri gue, ‘Ya udah nggak apa-apa, gue terima yang penting lu ngomong’. Jawab gue,’ya udah, pokoknya lu baca aja’.

Waktu gue tahu gue positif HIV, gue sempet shock. Gue sempet sebulan itu nggak bisa tidur tenang. Dan, berkecamuk di hati gue, bagaimana dengan isteri gue dan anak gue, karena gue tahu, HIV/AIDS menular dari hubungan seks dan darah. Kalau istri dan anak gue positif gimana? Akhirnya anak gue bawa untuk di test, dan untungnya hasilnya bagus, anak gue negative. Mau ngajak isteri untuk ditest gue belum ada keberanian, karena harus konsultasikan ke dokter. Gue nggak berani karena kayaknya isteri gue nggak terima kalau ia sampe positif juga HIV/AIDS.

Sempet gue berpikir untuk pisah aja. Tapi kalau gue pisah ama dia, dia kasihan kalau benar dia positif. Akhirnya gue jalanin aja hidup gue. Gue bisa ngatasin shock karena tahu positif HIV/AIDS, karena gue berpikir, kalau udah begini gimana lagi, kalau mau mati, ya pasti mati. Orang yang kena HIV/AIDS bisa bertahan 5-10 tahun udah paling hebat. Jadi, ngapain ingin mati, karena nanti juga pasti mati. Jadi, gue berpikir, sisa hidup gue harus gue berdayakan.

Jadi, hidup gue berdayakan untuk memberi penerangan kepada temen-temen (pecandu) agar mereka jangan sampe seperti nasib gue. Walau gue yakin mereka pun sepertinya positif HIV juga. Karena dari tahun 2005-2006, udah selusin lebih temen-temen gue meninggal. Setidaknya, gue bisa memberi dukungan moril, jika mereka positif, nggak usah takut. Akhirnya gue ngasih tahu temen-temen yang masih make, akan bahaya narkoba. Gue juga ngasih jarum suntik baru yang steril.

Pas tahun 2006 ini, ada lowongan tenaga penyuluh Harm Reduction khusus NAPZA di Puskesmas. Gue juga bawa beberapa temen yang masih make untuk didetoksin. Dari sekian temen yang gue bawa, ada dua-tiga yang berhasil berhenti.

Apa yang terjadi pada Rohili bukan lagi hal yang langka. Ada banyak pecandu narkoba dengan segala macam kisahnya yang berakhir dengan HIV/AIDS. Malah mungkin lebih tragis lagi kisahnya. Tapi setidaknya, ia lebih beruntung, karena masih dapat menghirup udara segar, dibandingkan kebanyakan teman-temannya yang lebih dulu terbujur membisu, menyatu dengan tanah tanpa bisa berbuat apa-apa yang baik di ujung usia mereka. Rohili tentu tak mau memikirkan berapa tahun lagi ia bisa hidup. Hanya meninggalkan kesan baik yang ada di pikirannya. Dan, dirinya dapat berguna untuk orang lain, di mana jejaknya itu tidak bisa diikuti oleh teman-temannya yang telah berkalang tanah.

(Rohili, petugas penyuluh Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta yang juga mantan pecandu narkoba dan mengidap HIV/AIDS)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: